Kembangkan Teknologi Probiotik Enkapsulasi untuk Unggas

Dilihat Telah dilihat : 91 kali.  

MALANG-Dosen Universitas Islam Malang (Unisma) kembali mendapatkan hibah penelitian. Kali ini dari Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek-BRIN) untuk Penelitian Unggulan Perguruan Tinggi (PTUPT) selama tiga tahun. Adalah Dr. Ir. Umi Kalsum, M.P bersama Dr. Sumartono, M.P selaku tim riset Unisma yang berhasil mendapatkan hibah tersebut.

Keduanya telah menyelesaikan risetnya pada tahapan kedua. Di tahun 2021 akan melanjutkan untuk tahap ketiga. Judul riset yang dikerjakan adalah Implementasi dan Peningkatan Mutu Probiotik Enkapsulapsi sebagai Aditif Pakan Unggas Siap Industrialisasi.

Penelitian probiotik tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2007. Diawali dari riset dasar dengan melakukan isolasi bakteri dari usus halus burung puyuh. Isolasi tersebut berhasil mendapatkan dua spesies bakteri asam laktat. Yaitu laktobasilus fermentum dan laktobasilus salivarius.

Kemudian tim riset melanjutkan penelitiannya hingga menghasilkan suatu probiotik yang tahan terhadap garam empedu maupun terhadap asam lambung. Sehingga dimungkinkan bahwa bakteri tersebut berupa probiotik yang tetap hidup hingga di usus halus burung puyuh.

Umi mengatakan, saat ini tim riset meneliti tentang probiotik enkapsulasi dan berhasil divalidasi pada tingkat laboratorium. Selanjutnya produk penelitian akan diimplementasikan secara luas pada industri peternakan.

Sebab telah terbukti dalam skala laboratorium mampu meningkatkan produktivitas ternak, meningkatkan efisiensi pakan, menurunkan kadar kolesterol daging dan telur unggas. Selain itu juga menurunkan biaya produksi serta meningkatkan pendapatan peternak.

“Beberapa perusahaan peternakan telah bersedia menjadi mitra untuk uji coba produk probiotik enkapsulasi hasil dari riset yang kami kerjakan,” ungkap Umi Kalsum.

Salah satu mitra yang berkenan kerja sama adalah CV Mitra Mandiri. Di perusahaan ini sudah dilakukan uji coba pada ternak puyuh. Pemberian probiotik enkapsulasi ternyata menghasilkan bobot telur yang lebih besar dibandingkan tanpa pemberian probiotik.

“Disamping itu dari perhitungan secara ekonomis maka penggunaan probiotik enkapsulasi ini akan meningkatkan produksi telur puyuh, sehingga otomatis pendapatan peternak juga akan semakin meningkat,” terang Umi.

Probiotik enkapsulasi merupakan salah satu solusi dari penggunaan antibiotik yang telah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 2017. Karena penggunaan antibiotik itu menyebabkan adanya residu yang berbahaya baik ternak maupun bagi manusia yang mengonsumsinya. Proses enkapsulasi juga bermanfaat untuk mempermudah dalam proses pemasaran. Karena produknya dalam bentuk serbuk. Ini akan mempermudah dalam proses marketing dan pendistribusiannya.

Dari riset ini, mahasiswa juga mendapatkan manfaat. Data yang diperoleh bisa menjadi bahan menyusun skripsi. Disamping itu mereka dapat mendapatkan tambahan soft skill dan hard skill dalam pembuatan produk probiotik enkapsulasi.

“Dengan demikian budaya riset di Unisma akan semakin berkualitas dan menghasilkan multi fungsi baik untuk mahasiswa, institusi maupun kolaborasi dengan mitra pengguna,” paparnya.

Riset yang dilakukan dosen Unisma kali ini merupakan inovasi baru. Mempunyai nilai ekonomis serta mendapat perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Sasaran akhir dari penelitian ini adalah dihasilkannya inovasi teknologi pada bidang unggulan dan rekayasa, guna meningkatkan pembangunan berkelanjutan pada tingkat lokal maupun nasional.

“Kami menyampaikan terima kasih baik kepada Ristek-BRIN yang telah mendukung penelitian ini dan juga kepada Unisma yang telah mendukung dalam laboratorium maupun fasilitas yang lainnya,” tutup Umi. 

sumber : https://newmalangpos.id/pendidikan/kembangkan-teknologi-probiotik-enkapsulasi-untuk-unggas

Need Help? Chat with us