Dari “Lapar” Jadi Kanibal

Dilihat Telah dilihat : 160 kali.  

Bertold Brecht dalam “Semua atau Tidak Sama Sekali” pernah menyindir kalangan berduit, “Kau yang lapar, siapa yang akan memberimu makan?datanglah pada kami, kami pun kelaparan. Hanya orang-orang lapar yang akan memberimu makan.Sindiran ini sejatinya merupakan kritik tajam yang diarahkan pada manusia yang sedang tumpul nuraninya.

Kalau manusia sedang di titik tumpul nurani ini, maka dirinya tidak mampu menerjemahkan, apalagi menjembatani (membebaskan) problem kehidupan sesama dan masyarakatnya. Meskipun negara dan masyarakat sedang menghadapi wabah Covid-19, tetapi jika nuraninya dibiarkan tidak sensitif dengan realitas, maka tetap saja sulit menunggu gerakan pembebasan berbasis kemanusiaan darinya.

Dari ranah itu, masyarakat yang sedang mengalami ”multi”  susah akibat Covid-19 ini, bukannya sebagai obyek jihad kekuasaan dan kemanusiaan, tetapi dianggap sebagai beban dan  masalah. Jihad kemanusiaan tidak berjalan ideal, pasalnya dimensi ini dibiarkan berjalan tanpa panduan kebeningan atau kefitrian nurani seseorang atau sekelompok orang yang secara ekonomi hidup berkecukupan atau subyek struktural yang mendapatkan amanat untuk menunaikan kewajiban dalam menegakkan keadilan publik.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Ironisnya lagi, tidak jarang masih berkeliarannya sejumlah orang mengemas tangan-tangan kriminal atau mendaulatkan praktik kezaliman indovidual dan kolektif. Mereka tidak peduli yang dilakukannya akan potensial semakin menyengsarakan banyak orang atau tidak. Mereka  ini tetap saja ”memproduksi” praktik-praktik yang berpola perampasan atau penghilangan hak banyak orang. Nabi Muhammad SAW mengingatkan  atau mengancam mereka ini dalam sabdanya “Akan dihimpun orang-orang yang sewenang-wenang dan takabur pada hari kiamat sebagai butir-butir debu. Mereka akan diinjak-injak oleh manusia, karena sangat  hinanya di sisi Allah Ta’ala

Sabda Nabi tersebut sebagai peringatan keras terhadap manusia yang hidupnya diabdikan dalam perilaku otoritarian, atau popular disebut juga dengan kezaliman, baik individual maupun struktural. Nabi sangat tidak menyukai sekumpulan manusia yang mendisain dirinya jadi dehumanis atau predator-predator sosial, ekonomi, dan kekuasaan.

Sebelum dieksaminasi oleh Covid-19, selama ini di kalangan komunitas itu seolah sebgai cermin mudahnya jadi sekumpulan manusia yang terjebak memproduksi, memelihara dan melanggengkan penyakit kekuasaan dengan cara membiarkan ambisinya terus mengembara mencari kekayaan, mengumpulkan pundi-pundi keuangan secara ilegal, atau berburu ”instrumen” hedonisme.

Kelompok atau komunitas itu terjerumus dalam praktik memanfaatkan kekuasaan atau jabatannya untuk membangun dan melestarikan kultur anomalistik. Mereka ini kumpulan kaum terpelajar atau cerdik pandai, yang kepandaian atau kecerdikannya ini lebih banyak digunakan untuk ”membodohi” atau ”menelikung” banyak hak rakyat.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

Mereka itu cerdik dan sangat licin membuka ”ruang basah” untuk mendatangkan ”rizki” ilegal berlimpah ruah, yang tentu saja mengakibatkan kehidupan rakyat menjadi banyak kehilangan keberdayaannya, diantaranya rakyat menderita ragam ”kelaparan”, seperti ”lapar’ keadilan sosial, kesedejatan status, kesejahteraan, lapar pangan begizi, ”lapar” pengelolaan (perlindungan hak atas kesehatan dan keselamata) dan lain sebagainya.

Kondisi seperti inilah yang bisa  berdampak terhadap munculnya reaksi sosial yang diantaranya berbentuk kanibalis, yakni ”pemangsaan” atau pencabik-cabikan dari kelompok sosial atau kumpulan individu yang sedang atau telah sekian lama ”lapar” pada seseorang atau sekumpulan orang yang ”bermandikan” hidup dalam kemewahan (kemakmuran).

Sangat fatalnya lagi, kehadiran penyakit yang sejatinya sebagai ujian ketahanan keimanan dan moral setiap bangsa, justru dijadikannnya sebagai opsi dan bahkan ”magnet” kriminalistik untuk mewujudkan atau mengembangkan ”keserakahan” sektoral, kelompok, dan kerabat-kerabatnya hingga seolah perburuan ini tidak mengenal titik nadir, yang tentu saja bisa mengakibatkan disparitas yang mengerikan. Kalau hal ini berlanjt dan semakin banyak orang lapar, maka kasus yang pernah menimpa beberapa komunitas di sejumlah negara yang jadi kanibal, bukan tidak mungkin terjadi disini.

Mereka itu tampak terbaca sangat lihai dan bisa  bertualang atas nama baju kekuasaannya untuk menuai keuntungan material yang tidak halal. Mereka bahkan menjadikan cara ini sebagai strategi dan kultur logis dalam lingkaran strukturalnya, sehingga kalau dilihat dari kacamata agama sebagai dosa  atau aib struktural.

Itulah yang membuat kondisi spiritualitas pengemban kekuasaan di negeri ini harus disembuhkan atau menyembuhkan dirinya dengan car amengembalikan ’kedaulatan agama”, salah satunya  dengan menjalankan puasa, pasalnya dengan berpuasa (ramadan) ini, diniscayakan terjadi transformasi dari jiwa dan gaya hidup tersesat jalan atau yang berpenyakitan menuju jiwa atau kepribadian yang bersih, dari nurani yang ditumpulkan oleh kepentingan keduniaan (kesenangan) menjadi nurani yang cerdas  membangun dan menguatkan konstruksi relasi vertikal (hablumminallah) dan humanitasnya (hablumminannas).

INFORMASI SEPUTAR UNISMA KUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA) dan penulis buku hukum dan agama.

Need Help? Chat with us